Tiga Sahabat
Disuatu hari ada anak yang bernama
fizi yang mempunyai 2 teman yang bernama zia dan amad, fizi adalah anak
laki-laki dari seorang penjual tomat, fizi adalah anak yang tidak bisa dalam
pelajaran apapun tapi semngatnya untuk membahagiakan kedua orangtuanya membuat
ia sangat berani dalam hal apapun, dan zia adalah anak prempuan dari seorang
petani, ia selalu sombong atas apa yang ia dapatkan, zia menganggap hidup tanpa
orang lain itu bisa, sedangkan ahmad adalah anak laki-laki dari seorang
penjahit, ia adalah anak paling pintar dikelas tetapi ia seorang penakut.
Mereka bertiga mempunyai impian yang sama
mereka ingin kelaut selatan, tapi untuk kesana mereka harus mempunyai bekal
yang sangat banyak karena kebandelan meraka, mereka bertiga nekat untuk pergi
malam-malam, tanpa sepengetauan orangtua mereka. Didalam perjalanan, mereka
singgah disuatu tempat, disana mereka tidur lenyap tanpa tau apa yang akan
terjadi.
Mereka terbangun karna suara burung
berterbangan, mereka melanjutkan perjalanannya. Disaat mereka sampai di pantai
selatan mereka sangat senang, ada yang berenang dan bermain pasir. Fizi melihat
sebuah buku, buku itu terdampar di pasir fizi berkata “zia, ahmad lihatlah apa
yang aku temukan!!” mereka berdua mendekati fizi “buku…..??” fizi
menganggukkan, zia melihat buku itu dan ia buang “buku seperti ini tak ada
harganya” fizi kesal atas tingkah laku zia yang keterlaluan “apa maksutmu?”
fizi mengambilnya kembali, fizi duduk dan membuka buku itu, ternyata di
dalamnya tidak ada apapun “untuk apa buku ini?” zia dan ahmad melihat buku
tersebut dan duduk di sebelah fizi. Tiba-tiba buku iyu membuka dengan
sendirinya terus-menerus dan dengan cepat, buku itu berhenti disebuah halaman,
halaman tersebut bercahaya semakin lama semakin terang.
****
Makin lama cahaya itu semakin memudar dan
buku itu menutup dangan sendirinya, meraka bertiga tidak ada di pantai selatan
tapi mereka bertiga ada di sebuah perpustakaan fizi dengan heran melihat
sekelilingnya berubah “tempat apa ini, mengapa kita ada disini?” ahmad menjawab
“sepertinya buku inilah yang membawa kita ketempat yang tidak kita kenali ini…”
“mungkin” zia menjawab dengan berdiri dan melihat sekelilingnya, “bagaimana
kita kembali?” fizi melihat ahmad dan berkata “bukankah ini perpustakaan,
mungkin disalah satu buku ini menerangkan cara pulang kedunia asal” ahmad
berdiri dan melihat sebagaian buku yang tertata rapi di lemari panjang
tersebut. Tak lama kemudia ahmad membawa dua buku dari rak atas “ini dia” ahmad
duduk disebelah fizi dan ziapun mendekat, buku itu adalah buku sejarah tentang
dunia khayalan. Ahmad menatap mata fizi dan zia “hanya ada satu cara untuk bisa
kembali didunia nyata, kita harus mencari pintu, dan katanya disini ada
berribu-ribu pintu” “mengapa kita bisa disini?” ahmad mencari jawaban di buku
itu, katanya siapa yang masuk buku ini hanyalah anak yang bandel, pesimis,
sombong dan penakut.” Fizi berdiri “ok, lebihbaik kita mencari di mana pintu
itu terdapat dan kita bisa pulang” ahmad menatap zia menandakan bila ia tidak
berani apa disuruh fizi tetapi akhirnya ahmadpun mengikuti jejak langkah fizi
yang dahulu mencari pintu tersebut. Fizi melihat sangat banyak pintu, ia
kebingungan mau milih yang mana, fizi melihat pintu yang paling unik dari yang
lain, fizi mendekati pintu tersebut yang bertulisan ‘kekuatan cahaya malam’
****
Tulisan itu tertulis dengan tinta merah, zia
dan ahmad melihat melihat pintu tersebut “apa kekuatan cahaya malam?” zia
melihat keatas, diatas terdapat cendela yang langsung kearah angkasa “cahaya
yang terdapat pada malam hari adalah bulan dan bintang, tetapi kekuatan cahaya
bulan lebih kuat dari cahaya bintang, bias diartikan cahaya bulanlah kekuatan
cahaya malam, tapi aku tidak tau bagaimana caranya untuk memasukkan cahaya itu
kedalam pintu itu hal yang gak masuk akal” fizi mencari alat untuk melakukan
hal tersebut, fizi melihat kaca besar yang ada di sebelah pintu tersebut “bisa
kok, cahayakan bisa dipantulkan melalui kaca ya, kan.” Zia melihat fizi dengan
takjup mengapa pemikiran fizi lebih jernih dibandingkan dirinya sendiri “kau
hebat, aku salah menilai hidup, aku selalu menganggap hidup tanpa orang lain
itu bisa, ternyata tidak, maafkan aku karna kesombongan aku selama ini” fizi
dan ahmad saling menatap, dengan serentak mereka menjawab “ya pastila kitakan
sahabat” zia hanya tersenyum melihat dua anak tersebut. Mereka bertiga
mengangkat kaca besar tersebut dihadapkan kearah cahaya bulan dan dipantulkan
kearah pintu. Tak lama kemudia pintu tersebut terbuka, mereka bertiga masuk
kearah pintu itu, mereka melihat sekelilingnya terdapat banyak angka dan
perlahan pintu tersebut menutup. Disana hanya ada satu pintu, di atas pintu
tersebut terdapat tulisan 61+21-80= dan pintu tersebut terdapat tombol banyak
yang tertulis angkah 1,2,3,4,5,6,7,8,9. fizi tidak bisa dalam pelajaran hitung-menghitung,
fizi menatap ahmad yang pandai dalam hal tersebut, ahmad mencoba berfikir “2,
jawabannya 2, coba tekan nomer2” zia menekan nomer dua dan pintu tersebut
terbuka. Setelah pintu itu terbuka dan mereka bertiga masuk disana ada delapan
pintu dengan bentuk yang sama “mana pintu yang asli?” zia melihat pintu
satu-persatu dan berkata “pintu yang asli adalah pintu itu" mereka melihat
pintu itu bersama, dan serentak bertanya "mengapa?" zia menjawab
dengan menggaruk kepala " aku hanya melihat lantai ini lebih mengarah ke
pintu itu" mereka hanya saling memandang satu sama lain dan tersenyum.
****
****
fizi
melangkahkan kakinya mengarah ke panah yang ada di lantai dan 'kretek' fizi
mengangkat kakinya dan kembali di tempat asal kakinya berada. ahmad melihat
fizi ketakutan dengan langkah pertamanya dan bertanya "kenapa?" fizi
melihat kedua sahabatnya "lantai ini terbaut dari kaca, hanya beberapa
anak yang bisa berlari kearah pintu itu, sepertinya kalian dulu saja"
ahmad melihat zia dan menyuruhnya berlari dulu dengan isyarat. zia berlari dan
'kretek -kretek' ia tetap berlari menuju ke depan pintu itu, dan akhirnya
sampai. lalu fizi menyuruh ahmad untuk pergi dan ahmadpun berlari dengan
kencang dan sampai ke tempat zia berada tapi 'brak' kaca tersebut hanya tersisa
sebagian kaca untuk dilewati. ahmad mengayunkan tangannya menyuruh fizi untuk
berlari tapi fizi hanya tersenyum "gak perlu makasih kalian boleh meninggalkan
aku" wajah zia memerah "apa maumu? ayo, kita tidak dapat pulang tanpa
kamu" "tapi" ahmad berteriak saat kaca itu mulai berjatuhan
sedikit demi sedikit "cepet" fizi berlari menghampiri mereka dan
bersama-sama masuk ke pintu tersebut.
****
mereka melihat sekeliling tempat itu penuh dengan kaca, hanya ada sebuah cahaya kecil yang menerangi setiap langkah perjalanan mereka "apa ini" kata zia, "ini dunia kaca" kata fizi. Zia bertanya pada ahmad “apa yang harus kita lakukan?” ahmad melihat kaca-kaca itu berbentuk sama tapi kaca-kaca itu menunjukkan hanya satu jalan “hanya ada satu jalan di dunia kaca ini” “ikuti aku!” mereka berdua mengikuti arah ahmad berjalan. Sampai akhirnya mereka sampai di jalan pertigaan fizi bertanya “ kanan atau kiri?” ahmad memilih jalan kanan dan disana ada pintu besar “ah.. itu pintunya” tapi anehnya pintu itu terdapat mereka yang berdiri di depannya, mereka sekilas berfikir dan berteriak bersama “pintunya di belakang kita” mereka berlari balik arah dan mereka masuk ke dalam pintu tersebut dan ‘byurrr’
****
mereka melihat sekeliling tempat itu penuh dengan kaca, hanya ada sebuah cahaya kecil yang menerangi setiap langkah perjalanan mereka "apa ini" kata zia, "ini dunia kaca" kata fizi. Zia bertanya pada ahmad “apa yang harus kita lakukan?” ahmad melihat kaca-kaca itu berbentuk sama tapi kaca-kaca itu menunjukkan hanya satu jalan “hanya ada satu jalan di dunia kaca ini” “ikuti aku!” mereka berdua mengikuti arah ahmad berjalan. Sampai akhirnya mereka sampai di jalan pertigaan fizi bertanya “ kanan atau kiri?” ahmad memilih jalan kanan dan disana ada pintu besar “ah.. itu pintunya” tapi anehnya pintu itu terdapat mereka yang berdiri di depannya, mereka sekilas berfikir dan berteriak bersama “pintunya di belakang kita” mereka berlari balik arah dan mereka masuk ke dalam pintu tersebut dan ‘byurrr’
****
air membasahi baju
mereka dan merekapun bangun dari tidur mereka yang begitu tegang atas
pertualangan mereka “bangun kalian ganggu pelanggan tokoku saja”. Ternyata
mereka tertidur di depan toko cik tong. Merekapun berdiri dan berjalan fizi
berkata “mimpi itu seperti nyata” ahmad
melihat fizi “aku juga” zia tersenyum dan menjawab “kita dilarang pergi ke
pantai impian, udah kita pulang saja” mereka berjalan pulang dengan
senyuma-senyuman kecil di bibir mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar