Wikipedia

Hasil penelusuran

Translate

Kamis, 12 Februari 2015

Repost CERPEN from other BLOG


 Tiga Sahabat

         Disuatu hari ada anak yang bernama fizi yang mempunyai 2 teman yang bernama zia dan amad, fizi adalah anak laki-laki dari seorang penjual tomat, fizi adalah anak yang tidak bisa dalam pelajaran apapun tapi semngatnya untuk membahagiakan kedua orangtuanya membuat ia sangat berani dalam hal apapun, dan zia adalah anak prempuan dari seorang petani, ia selalu sombong atas apa yang ia dapatkan, zia menganggap hidup tanpa orang lain itu bisa, sedangkan ahmad adalah anak laki-laki dari seorang penjahit, ia adalah anak paling pintar dikelas tetapi ia seorang penakut.
    Mereka bertiga mempunyai impian yang sama mereka ingin kelaut selatan, tapi untuk kesana mereka harus mempunyai bekal yang sangat banyak karena kebandelan meraka, mereka bertiga nekat untuk pergi malam-malam, tanpa sepengetauan orangtua mereka. Didalam perjalanan, mereka singgah disuatu tempat, disana mereka tidur lenyap tanpa tau apa yang akan terjadi.

    Mereka terbangun karna suara burung berterbangan, mereka melanjutkan perjalanannya. Disaat mereka sampai di pantai selatan mereka sangat senang, ada yang berenang dan bermain pasir. Fizi melihat sebuah buku, buku itu terdampar di pasir fizi berkata “zia, ahmad lihatlah apa yang aku temukan!!” mereka berdua mendekati fizi “buku…..??” fizi menganggukkan, zia melihat buku itu dan ia buang “buku seperti ini tak ada harganya” fizi kesal atas tingkah laku zia yang keterlaluan “apa maksutmu?” fizi mengambilnya kembali, fizi duduk dan membuka buku itu, ternyata di dalamnya tidak ada apapun “untuk apa buku ini?” zia dan ahmad melihat buku tersebut dan duduk di sebelah fizi. Tiba-tiba buku iyu membuka dengan sendirinya terus-menerus dan dengan cepat, buku itu berhenti disebuah halaman, halaman tersebut bercahaya semakin lama semakin terang.
                 
****
  
   Makin lama cahaya itu semakin memudar dan buku itu menutup dangan sendirinya, meraka bertiga tidak ada di pantai selatan tapi mereka bertiga ada di sebuah perpustakaan fizi dengan heran melihat sekelilingnya berubah “tempat apa ini, mengapa kita ada disini?” ahmad menjawab “sepertinya buku inilah yang membawa kita ketempat yang tidak kita kenali ini…” “mungkin” zia menjawab dengan berdiri dan melihat sekelilingnya, “bagaimana kita kembali?” fizi melihat ahmad dan berkata “bukankah ini perpustakaan, mungkin disalah satu buku ini menerangkan cara pulang kedunia asal” ahmad berdiri dan melihat sebagaian buku yang tertata rapi di lemari panjang tersebut. Tak lama kemudia ahmad membawa dua buku dari rak atas “ini dia” ahmad duduk disebelah fizi dan ziapun mendekat, buku itu adalah buku sejarah tentang dunia khayalan. Ahmad menatap mata fizi dan zia “hanya ada satu cara untuk bisa kembali didunia nyata, kita harus mencari pintu, dan katanya disini ada berribu-ribu pintu” “mengapa kita bisa disini?” ahmad mencari jawaban di buku itu, katanya siapa yang masuk buku ini hanyalah anak yang bandel, pesimis, sombong dan penakut.” Fizi berdiri “ok, lebihbaik kita mencari di mana pintu itu terdapat dan kita bisa pulang” ahmad menatap zia menandakan bila ia tidak berani apa disuruh fizi tetapi akhirnya ahmadpun mengikuti jejak langkah fizi yang dahulu mencari pintu tersebut. Fizi melihat sangat banyak pintu, ia kebingungan mau milih yang mana, fizi melihat pintu yang paling unik dari yang lain, fizi mendekati pintu tersebut yang bertulisan ‘kekuatan cahaya malam’
              
****

   Tulisan itu tertulis dengan tinta merah, zia dan ahmad melihat melihat pintu tersebut “apa kekuatan cahaya malam?” zia melihat keatas, diatas terdapat cendela yang langsung kearah angkasa “cahaya yang terdapat pada malam hari adalah bulan dan bintang, tetapi kekuatan cahaya bulan lebih kuat dari cahaya bintang, bias diartikan cahaya bulanlah kekuatan cahaya malam, tapi aku tidak tau bagaimana caranya untuk memasukkan cahaya itu kedalam pintu itu hal yang gak masuk akal” fizi mencari alat untuk melakukan hal tersebut, fizi melihat kaca besar yang ada di sebelah pintu tersebut “bisa kok, cahayakan bisa dipantulkan melalui kaca ya, kan.” Zia melihat fizi dengan takjup mengapa pemikiran fizi lebih jernih dibandingkan dirinya sendiri “kau hebat, aku salah menilai hidup, aku selalu menganggap hidup tanpa orang lain itu bisa, ternyata tidak, maafkan aku karna kesombongan aku selama ini” fizi dan ahmad saling menatap, dengan serentak mereka menjawab “ya pastila kitakan sahabat” zia hanya tersenyum melihat dua anak tersebut. Mereka bertiga mengangkat kaca besar tersebut dihadapkan kearah cahaya bulan dan dipantulkan kearah pintu. Tak lama kemudia pintu tersebut terbuka, mereka bertiga masuk kearah pintu itu, mereka melihat sekelilingnya terdapat banyak angka dan perlahan pintu tersebut menutup. Disana hanya ada satu pintu, di atas pintu tersebut terdapat tulisan 61+21-80= dan pintu tersebut terdapat tombol banyak yang tertulis angkah 1,2,3,4,5,6,7,8,9. fizi tidak bisa dalam pelajaran hitung-menghitung, fizi menatap ahmad yang pandai dalam hal tersebut, ahmad mencoba berfikir “2, jawabannya 2, coba tekan nomer2” zia menekan nomer dua dan pintu tersebut terbuka. Setelah pintu itu terbuka dan mereka bertiga masuk disana ada delapan pintu dengan bentuk yang sama “mana pintu yang asli?” zia melihat pintu satu-persatu dan berkata “pintu yang asli adalah pintu itu" mereka melihat pintu itu bersama, dan serentak bertanya "mengapa?" zia menjawab dengan menggaruk kepala " aku hanya melihat lantai ini lebih mengarah ke pintu itu" mereka hanya saling memandang satu sama lain dan tersenyum.

                                                                                               ****

 
   fizi melangkahkan kakinya mengarah ke panah yang ada di lantai dan 'kretek' fizi mengangkat kakinya dan kembali di tempat asal kakinya berada. ahmad melihat fizi ketakutan dengan langkah pertamanya dan bertanya "kenapa?" fizi melihat kedua sahabatnya "lantai ini terbaut dari kaca, hanya beberapa anak yang bisa berlari kearah pintu itu, sepertinya kalian dulu saja" ahmad melihat zia dan menyuruhnya berlari dulu dengan isyarat. zia berlari dan 'kretek -kretek' ia tetap berlari menuju ke depan pintu itu, dan akhirnya sampai. lalu fizi menyuruh ahmad untuk pergi dan ahmadpun berlari dengan kencang dan sampai ke tempat zia berada tapi 'brak' kaca tersebut hanya tersisa sebagian kaca untuk dilewati. ahmad mengayunkan tangannya menyuruh fizi untuk berlari tapi fizi hanya tersenyum "gak perlu makasih kalian boleh meninggalkan aku" wajah zia memerah "apa maumu? ayo, kita tidak dapat pulang tanpa kamu" "tapi" ahmad berteriak saat kaca itu mulai berjatuhan sedikit demi sedikit "cepet" fizi berlari menghampiri mereka dan bersama-sama masuk ke pintu tersebut.

                                                                                               ****


    
 mereka melihat sekeliling tempat itu penuh dengan kaca, hanya ada sebuah cahaya kecil yang menerangi  setiap langkah perjalanan mereka "apa ini" kata zia, "ini dunia kaca" kata fizi. Zia bertanya pada ahmad “apa yang harus kita lakukan?” ahmad melihat kaca-kaca itu berbentuk sama tapi kaca-kaca itu menunjukkan hanya satu jalan “hanya ada satu jalan di dunia kaca ini” “ikuti aku!” mereka berdua mengikuti arah ahmad berjalan. Sampai akhirnya mereka sampai di jalan pertigaan fizi bertanya “ kanan atau kiri?” ahmad memilih jalan kanan dan disana ada pintu besar  “ah.. itu pintunya” tapi anehnya pintu itu  terdapat mereka yang berdiri di depannya, mereka sekilas berfikir dan berteriak bersama “pintunya di belakang kita” mereka berlari balik arah dan mereka masuk ke dalam pintu tersebut dan ‘byurrr’

                                                                                              ****

air membasahi baju mereka dan merekapun bangun dari tidur mereka yang begitu tegang atas pertualangan mereka “bangun kalian ganggu pelanggan tokoku saja”. Ternyata mereka tertidur di depan toko cik tong. Merekapun berdiri dan berjalan fizi berkata “mimpi itu seperti nyata”  ahmad melihat fizi “aku juga” zia tersenyum dan menjawab “kita dilarang pergi ke pantai impian, udah kita pulang saja” mereka berjalan pulang dengan senyuma-senyuman kecil di bibir mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar